Categories Nasional

Gus Miftah Menilai Cara Ceramah Habib Rizieq Tidak Sesuai Ajaran Agama

Pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah menanggapi seruan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab alias Habib Rizieq yang menggaungkan ajakan revolusi akhlak.

Diketahui sejak kepulangan dari Arab Saudi, Rizieq Shihab menyerukan ajakan revolusi akhlak kepada para pendukungnya.

Ajakan itu bertebaran di berbagai spanduk yang dipasang di penjuru Jakarta.

Menanggapi hal itu, Gus Miftah menyoroti isi dakwah yang disampaikan Rizieq di hadapan para simpatisan FPI.

“Para dai itu dituntut untuk menguasai metodologi dakwah yang benar,” jelas Gus Miftah.

Ia menilai seorang penceramah harus bisa menyampaikan dakwah dengan hikmah, bahasa, serta mencerminkan perilaku yang baik.

Mengenai ajakan revolusi akhlak yang disampaikan Rizieq sendiri, Gus Miftah mengaku setuju.

“Maka sebetulnya begini, begitu ada istilah ‘revolusi akhlak’, itu saya setuju karena memang tujuan Rasulullah diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak,” ungkap pendiri pondok pesantren ini.

Namun ketika ajakan itu disampaikan Rizieq Shihab, ia menilai pemimpin FPI itu tidak mencerminkan seruan dakwahnya sendiri.

Gus Miftah menilai seharusnya seorang pendakwah dapat memberikan contoh yang baik.

Ia turut menyoroti bagaimana sosok Habib Rizieq dipandang masyarakat berbeda dengan seruan revolusi akhlaknya.

“Persoalannya adalah kenapa ini menjadi rancu karena seharusnya ketika kita berbicara akhlak, para penyampainya ini harus memberikan contoh dan akhlak yang baik,” papar Gus Miftah.

“Akan sangat lucu tema yang dibahas adalah revolusi akhlak, sementara penyampainya ini akhlaknya tidak bagus,” ungkitnya.

Tidak hanya itu, Gus Miftah menilai cara ceramah Habib Rizieq tidak sesuai ajaran agama.

“Makanya ada ketimpangan antara risalah dengan pembawa risalah,” jelas ulama asal Yogyakarta ini.

Ia menambahkan, hal yang paling merisaukan adalah saat ajaran agama dikaitkan dengan kepentingan kelompok tertentu, apalagi dengan isu politik.

“Selain hari ini orang menafsirkan Alquran sesuai dengan kepentingan masing-masing, bahkan lebih celaka lagi kepentingan politik masing-masing,” singgung Gus Miftah.

“Ini yang kemudian menjadi dakwah ini menjadi tidak asyik,” komentarnya.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *