FPI Reborn: Kemunafikan Lama Dalam Kemasan Baru

FPI Reborn: Kemunafikan Lama Dalam Kemasan Baru

Front Pembela Islam, sebuah kelompok garis keras yang dilarang oleh pemerintah Indonesia tahun lalu, telah meluncurkan kembali dirinya dengan kedok baru. Tidak banyak yang yakin bahwa pepatah apel jatuh jauh dari pohonnya.

Pada hari terakhir kedua tahun 2020, pemerintah Indonesia melarang Front Pembela Islam (FPI), sebuah kelompok garis keras yang kontroversial. Sepuluh bulan kemudian, kelompok tersebut telah memanipulasi aturan dan menemukan kembali dirinya sendiri.

Pertengahan September lalu, sederet video mendeklarasikan lahirnya kembali Front Persaudaraan Islam atau yang kini disebut ‘FPI Baru’ atau FPI Reborn. Video-video tersebut menjadi viral di media sosial. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Pernyataan serupa tentang kelahiran kembali FPI baru terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Awalnya, FPI Reborn berusaha menutupi kemunculan kelompok baru tersebut. Tapi fakta berbicara sendiri. Dalam talk show televisi pada bulan September, Aziz Yanuar, anggota Tim Advokasi FPI Reborn yang memberikan penasihat hukum kepada organisasi, mengakui bahwa FPI baru dideklarasikan pada 1 Januari 2021. Ini hanya dua hari setelah keputusan bersama yang dibuat oleh enam Menteri dan Kepala Lembaga yang melarang FPI lama. Ada beberapa alasan pelarangan, yang dikeluarkan pada 30 Desember 2020. Beberapa anggota FPI lama terang-terangan telah mendukung ISIS dan terlibat dalam aktivitas kriminal serta razia ilegal.

Cukup jelas bahwa ada sedikit perbedaan antara FPI yang dibubarkan dan FPI baru. Mereka berbagi akronim yang sama. Pencanangan FPI baru dilakukan di sebuah venue di Jalan Petamburan III Jakarta. Markas FPI lama dan penerusnya berada di lokasi yang sama. Tempatnya berada di dekat kediaman Rizieq Shihab, mantan ketua FPI lama. Logo FPI baru terlihat sangat mirip dengan pendahulunya.

Mantan tokoh FPI yang kini berkiprah di FPI Reborn memperkuat persepsi bahwa FPI Reborn hanyalah kemunafikan lama dalam kemasan baru. Pemimpin FPI Reborn, Qurthubi Jaelani, adalah mantan ketua FPI lama cabang Banten. Sobri Lubis yang menjadi ketua FPI sejak Rizeq mengasingkan diri di Arab Saudi beberapa tahun lalu, menjabat sebagai penasehat FPI Reborn. Rizieq dan Munarman, mantan Sekjen FPI lama, tidak masuk dalam struktur kepengurusan FPI Reborn. Namun seperti diakui Aziz, ‘jiwa dan semangat mereka akan tetap bersama FPI Reborn selamanya’.

FPI Reborn bukanlah inisiatif pertama yang dilakukan mantan anggota FPI. Segera setelah FPI lama dibubarkan, Sobri Lubis dan tokoh-tokoh FPI lama lainnya mengumumkan berdirinya Front Persatuan Islam (FPI) pada 31 Desember, yang membawa akronim yang sama dengan FPI. Mereka menggunakan taktik strategi konfrontasi garis keras yang sama seperti FPI lama, menyebut pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai rezim penindas yang telah melanggar Konstitusi karena telah melarang kelompok yang lebih tua. Selanjutnya, sebagian besar jika tidak semua anggota Front Persatuan Islam bergabung dengan FPI baru.

Jelas bahwa FPI Reborn saat ini sedang mengembangkan narasi yang menghilangkan citra garis keras yang terkait erat dengan FPI lama.

Saat ini mantan pemimpin FPI terpaksa mengubah strategi komunikasi mereka untuk keberlangsungan kepentingan kelompoknya. FPI Reborn adalah manifestasi terbaru dari perubahan strategis ini. Mereka mengeluarkan tiga program, yang salah satunya terdapat poin bahwa mereka menyerukan penghapusan liberalisasi untuk melindungi Pancasila dari ideologi liberal yang melahirkan ateisme, komunisme, dan kapitalisme. Klaim tersebut sangat aneh, karena menganggap liberalisme adalah pengaruh penyebaran ateisme dan komunisme).

Penyegaran FPI juga muncul dari urgensi yang mendesak, atau bahkan kebutuhan untuk bertahan hidup. FPI Reborn tampaknya telah mengambil pelajaran. Piagam FPI lama secara eksplisit menyerukan penegakan ‘hukum Islam secara komprehensif ( kaffah ) di bawah naungan khilafah Islam’. Hal ini memberikan alasan yang sah bagi Presiden Jokowi untuk membubarkan FPI lama. FPI lama dianggap telah melanggar Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 yang mengatur tentang ormas, yang dianggap bertentangan dengan ideologi negara, yakni Pancasila dan UUD 1945.

Dengan kata lain, narasi baru yang dipropagandakan FPI Reborn adalah siasat baru, untuk memanipulasi UU Ormas agar bisa terhindar dari pelanggaran hukum negara.

Pertanyaan yang mengalir dari sini adalah lugas: apakah kita semua akan begitu mudah tertipu untuk percaya bahwa FPI Reborn telah benar-benar berubah secara ideologis, dan menjauh dari pendahulunya? Penggunaan akronim FPI yang sama dan simbol yang mirip dengan organisasi pendahulunya sangat mencolok. Tidak sedikit orang Indonesia yang akan mengingat bahwa FPI lama cabang Banten, yang pernah dipimpin oleh ketua FPI Reborn saat ini, secara luas dianggap bertanggung jawab atas pembantaian anggota sekte Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, pada tahun 2011. Meski tarekat (metode) FPI Reborn terlihat berbeda, fikrahnya (ideologi) mengacu pada aliran ideologis yang sama dengan FPI lama, yaitu perjuangan Khilafah Islamiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *