Categories Yogyakarta

DPC GMNI Yogyakarta Usulkan Kongres Pemuda Internasional Global South: Melanjutkan Semangat Bandung dalam Konteks Global Saat Ini

Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Yogyakarta secara resmi mengusulkan penyelenggaraan Kongres Pemuda Internasional Global South sebagai salah satu agenda strategis dalam Kongres Nasional GMNI ke-XXII yang akan diselenggarakan di Bandung.

Bandung, kota bersejarah yang menjadi tempat lahirnya Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955, kembali menjadi simbol kebangkitan solidaritas negara-negara Global South. Lebih dari setengah abad sejak KAA, dunia telah berubah, namun persoalan lama masih berulang: ketimpangan struktural global, eksploitasi sumber daya, neo-kolonialisme digital, dan krisis iklim.

“GMNI Yogyakarta mengusulkan kongres ini sebagai manifestasi dari semangat Bandung, kali ini dengan kekuatan pemuda progresif lintas negara Global South,” ujar Gilang Faijin Aljiaro, ketua DPC GMNI Yogyakarta. “Pemuda tidak boleh lagi menjadi objek narasi globalisasi. Kita harus menjadi subjek sejarah yang menentukan arah dunia yang lebih adil dan merdeka.” Tambah Sekretaris DPC GMNI Yogyakarta, Yudhya Prasetia.

Dalam dinamika geopolitik saat ini, negara-negara selatan dunia terus menjadi korban utama konflik bersenjata, perang dagang, dan ketimpangan global. Oleh karena itu, DPC GMNI Yogyakarta memandang perlunya ruang pertemuan lintas bangsa dan ideologi sebagai basis pembentukan poros kekuatan baru yang bertumpu pada solidaritas pemuda Global South. Bandung, dalam agenda kongres nasional GMNI ke-XXII, merupakan momentum yang tepat sebagai titik awal kebangkitan kembali semangat itu. GMNI sebagai anak ideologis Bung Karno—bung besar revolusi dan tokoh kunci dalam KAA—memiliki tanggung jawab sejarah untuk kembali menyalakan api perjuangan anti-hegemoni global.

“Usulan ini bukan sekadar acara internasional biasa. Ini adalah seruan perjuangan, seruan untuk bersatu melawan bentuk penjajahan gaya baru dengan kekuatan ide, solidaritas, dan tindakan kolektif, ini sejalan dengan tema yang diusung dalam kongres GMNI ke-XXII: Bersatu, lawan penjajahan gaya baru.” tegas Gilang.

Usulan ini diharapkan dapat menjadi forum tempat di mana pemuda Global South bertemu, berdiskusi bebas, dan merumuskan garis perjuangan bersama yang melintasi batas negara, menuju tatanan dunia baru yang berpihak pada si marhaen: rakyat tertindas.

Ekosipasi: Usulan GMNI Yogyakarta untuk Agenda Strategis Penyelamatan Lingkungan dalam Kongres Nasional ke-XXII GMNI

Menanggapi krisis lingkungan yang semakin akut di Indonesia dan dunia, DPC GMNI Yogyakarta secara resmi mengusulkan konsep Ekosipasi sebagai agenda strategis dalam Kongres Nasional GMNI ke-XXII yang akan digelar di Bandung.

Indonesia tengah menghadapi ekosida yang terstruktur dan masif: dari buruknya pengelolaan sampah, kebakaran hutan, pencemaran, alih fungsi lahan, hingga eksploitasi tambang dan perampasan ruang hidup rakyat atas nama pembangunan. Di Yogyakarta sendiri, berbagai persoalan seperti krisis sampah di TPA Piyungan, perampasan tanah di Kulon Progo, eksploitasi air di Sleman, dan pencemaran sungai akibat tambang pasir menunjukkan wajah nyata krisis ekologis.

Sebagai respons, GMNI Yogyakarta akan mengusung gagasan Ekosipasi—gabungan dari ekologi dan emansipasi—dalam agenda kongres nasional GMNI XXII di Bandung. Ini bukan sekadar wacana konservasi lingkungan, melainkan konsep revolusioner yang memandang hubungan manusia dan alam secara dialektis dan membebaskan. Ekosipasi mengkritik kapitalisme ekologis dan pendekatan teknokratis yang menjadikan alam sebagai objek eksploitasi atau konservasi pasif, ini sejalan dengan ruh perjuang GMNI.

“Ekosipasi menuntut perubahan sistemik dalam struktur ekonomi-politik, dan menjadikan rakyat sebagai aktor utama dalam pengelolaan ruang hidup secara demokratis,” tegas Ghifari Nugroho, ketua bidang aksi & advokasi DPC GMNI Yogyakarta. “Kaum tani, masyarakat adat, dan pemuda progresif harus menjadi ujung tombak dalam penyelamatan bumi.”

GMNI, sebagai organisasi kader ideologis Marhaenisme, memiliki tanggung jawab politik untuk merumuskan arah perjuangan ekologi yang berpihak pada rakyat, bukan pasar. Oleh sebab itu, Ekosipasi menjadi tawaran jalan politik ekologi yang membebaskan dan harus menjadi keputusan strategis kongres.

Dengan demikian, GMNI Yogyakarta mengusulkan gagasan tematik dalam kongres untuk bersikap tegas: berpihak kepada bumi, berdiri bersama rakyat, dan melawan setiap bentuk ekofasisme yang dibungkus pembangunan. “Tidak ada kemerdekaan sejati tanpa pembebasan ekologis. Tidak ada revolusi tanpa penyelamatan bumi,” tutup Ketua DPC GMNI Yogyakarta, Gilang Faijin Aljiaro.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *