Cinta Kasih Bangsa, Papua adalah Kita, Kita adalah Papua

Cinta Kasih Bangsa, Papua adalah Kita, Kita adalah Papua

Sebenarnya apakah negara kita sudah benar-benar bersatu? Persatuan adalah paham dimana konteksnya bukan hanya seputar kewilayahan saja yang menjelaskan bahwa daerah dan suku ini termasuk bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetapi sampai pada kesetaraan dan kebersamaan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak jarang terjadi rasisme, diskriminasi dan kekerasan pada rakyat Papua. Rasisme merupakan perlakuan diskriminasi menganggap ras yang lain lebih rendah dari ras tertentu. Di Negara Indonesia, Suku Papua merupakan ras Melanesia yang jumlahnya hanya sekitar 0,1 persen dari 250 juta penduduk Indonesia. Lebih minoritas dari jumlah seluruh penduduk, tetapi juga lebih tertinggal dari kemajuan modernisasi perubahan peradaban baru. Karena itu menjadi salah satu alasan mendapat diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Banyak berita yang mengabarkan adanya perlakuan yang tidak manusiawi kepada warga Papua. Berita terakhir yang terjadi dikutip dari BBC 23 Agustus 2019 berjudul Mahasiswa Papua bicara Soal Rasialisme: ‘Ih kalian bau’ dan tudingan tukang minum” didapatkan bahwa tudingan dan kecaman sering mereka dapatkan dalam pergaulan.

Pergaulan sosial dalam lingkungan RT/RW, lingkungan agama, lingkungan kerja, serta lingkungan kampus atau pendidikan pun masih terasa adanya gap diskriminasi bagi warga Papua. Belum lagi terdapat stigma bahwa Papua adalah daerah konflik dan kentalnya isu separatisme membuat konflik di Papua mirip benang kusut yang sulit diuraikan. Papua Berkulit Hitam, Si tukang bikin onar, acak adul dan rentetan stereotip negatif yang menyertainya. Singkatnya, cara pandang rasisme dan diskriminatif masih menjadi tumpuan sekian pihak—hingga akhirnya memengaruhi tingkat penerimaan kita terhadapnya.

Perlakuan rasialis inilah salah satu faktor yang mendorong timbulnya pemberontakan jiwa orang Papua ingin segera lepas dari Indonesia membentuk negara sendiri. Walaupun demikian beberapa orang meremehkan upaya pemberontakan politik orang Papua adalah sia-sia. Mereka masih menganggap orang Papua belum mampu merdeka sendiri, karena masih bodoh. Pandangan ini akhirnya berbuah perlawanan keras dari orang Papua, dimana perjuangan Papua merdeka dari waktu ke waktu terus berkembang luas. Perjuangan melalui jalur diplomasi maupun jalur militer dengan kekerasan bersenjata semakin hari makin sulit teratasi oleh Pemerintah Indonesia.

Semakin hari terlihat jelas upaya politik Papua ingin merdeka dan bebas. Karena itu Indonesia mulai meningkatkan upaya diplomasi politiknya untuk menghadang perkembangan diplomasi Papua merdeka didalam dan diluar negeri, termasuk pengerahan kekuatan militer untuk menumpas keberadaan TPNPB OPM di Nduga, Intan Jaya serta daerah konflik lain.

Dan selanjutnya, kita bisa berbuat apa? Apa upaya yang dapat kita lakukan saat ini?
Terdapat hukum tertulis UU No 39/1999 mengenai larangan perlakuan diskriminasi terhadap warga negara sudah dijamin pemerintah menegakan hukum bagi setiap orang yang berperilaku rasis atau diskriminasi terhadap sesama warga negara. Amanat UU No 39/1999 tersebut harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Karena pada dasarnya perlakuan diskriminasi ini salah satu faktor potensial yang merusak semangat kesatuan dan persatuan bangsa.

Jika terjadi kelalaian menegakkan UU No.39/1999 maka pandangan diskriminatif dan rasialis bebas tumbuh dan berkembang subur di Indonesia dan pada akhirnya dapat mengancam keretakan sosial dalam masyarakat serta mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dikutip dalam salam satu tulisan Mahasiswa Papua bicara soal rasisme: “Tolong hargai kami sebagai manusia”. Harapan mereka dihargai sebagai manusia. Esensinya kita lupa bahwa kita adalah mereka. Mereka adalah kita juga. Kita satu. Kita lupa untuk menerapkan Paham Persatuan bahwa mereka adalah saudara kita, bagian dari kita. Seharusnya kita menghargai mereka sebagai saudara bukan hanya sebagai manusia saja. Kita lupa Papua adalah Indonesia dan bagian dari kita.

Kita harus ingat faktanya bahwa Indonesia sebagai negara pluralis yang terdiri dari beragam suku bangsa, warna kulit, ras dan agama, sehingga harus mampu menjaga serta memelihara bentuk pluralisme tersebut sebagai modal dasar keutuhan bangsa. Indonesia harus mampu beretorika di depan publik bahwa Indonesia adalah negara berdasarkan Pancasila yang menghargai pluralisme. Keberagaman dari Sabang sampai Merauke adalah salah satu bentuk kekayaan bangsa. Cinta Kasih harus bisa diterapkan dalam keberagaman tanpa ada perbedaan.

Sebagai pemuda dan generasi penerus bangsa, kita harus paham tanggungjawab kita untuk menjaga kesatuan Bangsa. Kesatuan bangsa adalah tugas kita bersama. Kebebasan dan mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama adalah hak setiap manusia. Setiap potensi dalam dirinya perlu dikembangkan, tanpa ada keterbatasan karena wilayah, suku, bahasa maupun aspek lain. Mendapat perlakuan yang manusiawi, mengecap dunia pendidikan, mengembangkan bakat, berkarier, mengabdi, berpendapat dan bentuk perlakuan lainnya.

Pendidikan dan pembangunan di wilayah Papua tertinggal, kita dukung mereka agar dapat maju. Warna kulit berbeda kita dukung dengan menerapkan prinsip”perbedaan itu adalah unik dan indah”. Kita hilangkan stigma bahwa mereka jahat, bau, pemabuk,malas, bodoh, atau terbelakang. Sekali lagi kita tegaskan bahwa kita sama. Kita dengarkan pendapat dan aspirasi mereka.

Upaya serius membangun kembali relasi sosial antara warga asli Papua dan warga lainnya agar tercipta keharmonisan sesama warga negara. Ini dapat dilakukan dengan pembentukan forum bersama guna membahas persoalan yang kerapkali dan upaya penyelesaiannya. Hilangkan dan buang prinsip mereka berbeda dari kita, karena Papua adalah Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *