Aksi Kejam KKB Papua Tembak Mati Guru dan Bakar 3 SD Buat Geram DPR/MPR, Minta Polri Tambah Personil

Aksi Kejam KKB Papua Tembak Mati Guru dan Bakar 3 SD Buat Geram DPR/MPR, Minta Polri Tambah Personil

Aksi keji KKB Papua pimpinan Sabinus Waker menembak mati guru dan membakar 3 SD di Distrik Beoga, Kamis (8/4/2021) mendapat sorotan dari ketua MPR RI dan anggota DPR RI.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta Kapolri dan jajarannya menindak tegas pelaku penembakan dan memberikan rasa aman bagi para guru. 

“Meminta agar Kapolri, Kapolda dan satuan tugas yang berada di Papua untuk menindaklanjuti peristiwa tersebut serta menindak tegas pelaku penembakan serta melakukan patroli untuk memberikan rasa aman bagi warga,” ujar Bamsoet, kepada wartawan, Sabtu

Dia berharap penembakan itu tidak terulang karena guru seharusnya mendapatkan perlindungan dan tidak boleh menerima kekerasan dari siapapun.

“Terlebih lagi sangat sulit menemukan guru yang mau mengajar di daerah pedalaman,” imbuhnya .

Bamsoet turut meminta Kapolri dan Panglima TNI untuk meningkatkan koordinasi dengan Kapolda dan aparat yang bertugas di lapangan untuk lebih meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi aksi teror dari KKB. 

Dengan demikian, kata dia, diharapkan pemerintah bersama aparat keamanan dapat memprioritaskan dan fokus menjaga keamanan pada wilayah-wilayah rawan konflik.

Selain itu, Bamsoet menilai penting bagi  pemerintah pusat, TNI, dan Polri untuk melakukan pengejaran dan pembersihan KKB yang masih melakukan tindakan Kriminal. 

“Serta mempersempit ruang gerak KKB juga memutus rantai distribusi dan konsumsi serta sekaligus mengungkap keberadaan KKB agar dapat dilakukan tindakan tegas yang terukur,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, politikus Golkar itu meminta adanya komitmen pemerintah pusat, pemda provinsi Papua, TNI, dan Polri untuk memberikan jaminan keamanan terhadap warga Papua agar mereka dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman tanpa adanya ancaman kekerasan dari KKB.

“Apabila diperlukan, pemerintah harus melakukan dialog dengan pendekatan yang persuasif bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat di Papua, sehingga diharapkan dapat tercipta rekonsiliasi dan perundingan damai yang dapat menghentikan aksi KKB, dikarenakan keberadaan KKB sudah menjadi pengganggu dan mengancam keamanan hidup masyarakat Papua,” tandasnya. 

Tambah Personil ke Papua

Hal serupa disampaikan anggota Komisi III Andi Rio Idris Padjalangi.  

“Saya turut berduka cita, Kepolisian harus segera mengejar pelaku dan menangkap kelompok tersebut. Jangan sampai ada korban jiwa dari masyarakat sipil yang terus berjatuhan di tanah papua yang kita cintai,” kata Andi Rio kepada Tribunnews, Sabtu (10/4/2021). 

Lebih lanjut, Andi Rio berharap Polri dapat menambah jumlah personel ke Tanah Papua agar dapat lebih maksimal dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat, mengingat situasi dan kondisi papua masih terjadi teror yang dilakukan pihak KKB. 

“Polri harus memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam menjalankan aktifitas kesehariannya, jangan sampai masyarakat cemas dan takut,” ujar politikus Partai Golkar itu.

Kronologi insiden

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua seolah tak puas setelah menembak seorang guru SD di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kamis (8/4/2021).

Di hari yang sama, para KKB Papua juga membakar tiga sekolah.

TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi saat ini sudah bergerak memburu mereka.

Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri saat ditemui di Jayapura, Jumat (9/4/2021), membenarkan aksi pembakaran tiga sekolah tersebut pascapenembakan Oktovianus di Kampung Julukoma, Distrik Beoga.

Seperti dilansir dari Kompas.id dalam artikel ‘KKB Bakar Tiga Sekolah Pascapenembakan Guru di Pedalaman Papua’

Pelaku yang terlibat aksi ini adalah KKB Papua pimpinan Sabinus Walker.

”Sekolah yang dibakar KKB Papua meliputi SD Jambul, SMP Negeri 1 Beoga, dan SMA Negeri 1 Beoga. Para pelaku membakar ketiga sekolah ini pada pukul 18.15 WIT,” papar Mathius.

Ia menegaskan, Polda Papua telah menerjunkan tim ke Distrik Beoga untuk menindak tegas anggota KKB Papua Sabinus Walker yang berasal dari Intan Jaya.

Diketahui kelompok ini ke Beoga untuk bertemu dengan KKB Papua pimpinan Lekagak Telenggen.

”Kelompok ini berjumlah 75 orang dan menguasai senjata api.

Tim kami akan berupaya menghentikan aksi KKB Papua yang menyebabkan Beoga tidak kondusif,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait menyesalkan aksi penembakan guru dan pembakaran sekolah di Distrik Beoga.

Ia menginstruksikan untuk mengungsikan para guru ke Kabupaten Mimika.

Ia pun mengecam aksi KKB Papua yang menyerang tenaga pendidikan dan fasilitas sekolah.

Aksi ini menghambat guru membantu anak-anak belajar dan meningkatkan kualitas pendidikan sumber daya manusia Papua.

”Saya telah melaporkan masalah ini ke Wakil Gubernur dan Sekda Papua.

Kami juga telah berkoordinasi dengan aparat TNI dan Polri untuk menjamin keamanan para guru,” tutur Christian.

Sebelumnya, KKB Papua pimpinan Sabinus Walker menembak Oktovianus yang berprofesi sebagai guru SD pada pukul 09.30 WIT di Kampung Julukoma, Distrik Beoga.

Pria berusia 42 tahun ini meninggal di tempat karena terkena dua tembakan di tubuhnya.

Diketahui data dari Polda Papua, terjadi 49 aksi gangguan keamanan oleh KKB Papua sepanjang tahun 2020.

Teror penembakan KKB Papua terjadi di tujuh wilayah hukum Polda Papua, meliputi Nduga, Intan Jaya, Paniai, Mimika, Puncak Jaya, Keerom, dan Pegunungan Bintang.

Sebanyak 17 orang meninggal dunia akibat aksi KKB Papua.

Pada 2021, KKB Papua sama sekali tidak menghentikan aksinya.

Total delapan kali aksi penyerangan yang menyebabkan aparat keamanan dan warga menjadi korban.

Tiga anggota TNI dan tiga warga sipil meninggal dunia. Sementara satu anggota TNI dan seorang warga mengalami luka berat karena terkena tembakan.

Sumber Dana KKB Papua

Sementara itu, aksi brutal KKB Papua ini terus terjadi meski sebelumnya terungkap jika mereka kini telah terdesak dan hampir kelaparan. 

Kenapa KKB Papua masih bisa bertahan dengan amunisi dan senjata api meski kondisinya terjepit? 

Ternyata hal ini tidak terlepas dari sokongan dana dari sejumlah sumber. 

Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri mengatakan, selama ini pihaknya menduga sumber dana KKB Papua berasal dari oknum pejabat pemerintah hingga perampasan dana desa.

Namun, Fakhiri memastikan sumber dana utama KKB untuk bisa mendapatkan senjata api dan amunisi berasal dari kawasan penambangan emas ilegal di beberapa kabupaten di Papua.

“Tempat pendulangan (emas) itu berkontribusi besar untuk pembelian senjata api dan amunisi,” ujarnya di Jayapura, Kamis (8/3/2021).

Jauhnya lokasi penambangan ilegal membuat pengawasan dari aparat keamanan sangat minim sehingga hal tersebut yang kemudian dimanfaatkan KKB untuk memperoleh dana.

“Wilayah pendulangan biasanya jauh dari pengawasan aparat. Ada (KKB) yang datang untuk mengambil upeti, ada juga yang mereka ikut dulang,” ujar dia.

Ada beberapa kabupaten yang disebut Fakhiri memiliki kawasan penambangan tradisional ilegal.

“Paniai, Intan Jaya dan sebagian Yahukimo. Kalau Timika sidah jelas, makanya kita agak geser pendulang di situ agar tidak mendulang lagi,” kata dia.

Tanpa menyebut detail jumlahnya,  Fakhiri meyakini dari wilayah pendulangan ilegal, KKB bisa memperoleh dana cukup besar.  

Dia bertekad untuk memutus seluruh sumber dana KKB agar situasi keamanan di Papua bisa kondusif.

“Ini kita akan monitoring supaya mereka tidak mencari uang di situ dan uangnya dipakai untuk membeli peralatan tadi,” kata Fakhiri.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua, Frets J Boray membenarkan ada lokasi penambangan ilegal di empat kabupaten tersebut.

Jauhnya lokasi penambangan membuat pemerintah sulit menjangkaunya sehingga pengawasan atau bahkan penertiban sulit dilakukan.

“Kita sudah usulkan wilayahnya, sampai sekarang belum dikeluarkan izin oleh menteri (ESDM) supaya kita bisa pantau. Itu masih ilegal makanya kami tidak bisa bikin apa-apa,” kata Frets saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (9/4/2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *