Categories Ekonomi Nasional

Danantara, Solusi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

BADAN PENGELOLA INVESTASI Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara Indonesia) telah resmi diluncurkan oleh pemerintah pada 24 Februari 2025, hal ini memberikan harapan dalam pengembangan dan pengelolaan BUMN melalui optimalisasi investasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi. BPI Danantara mempunyai komitmen untuk meningkatkan efisiensi aset, menarik investasi global, dan memperkuat daya saing Indonesia di sektor strategis, sehingga menciptakan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pemerintah meyakini bahwa sektor- sektor strategis harus tetap di dorong untuk tumbuh, salah satunya adalah sektor investasi modal luar negeri yang ditargetkan tumbuh sekitar 10 persen, dan ekspor yang diharapkan tumbuh 9 persen, serta fokus pada sektor hilirisasi agar Indonesia tidak lagi menjadi negara pengekspor komoditas-komoditas mentah, namun menjadi pengekspor barang turunan dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Salah satu strategi pemerintah dalam menggenjot perekonomian Indonesia dan meningkatkan daya saing Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah dengan mengeluarkan Undang – Undang Nomor 19 Tahun 2025 tentang BUMN yang sekaligus mengesahkan BPI Danantara yang diklaim akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam hal investasi, sebetulnya pemerintah telah mendirikan Indonesia Investment Authority (INA) pada tahun 2020, yang telah dinilai cukup efektif dalam menjalankan perannya sebagai lembaga pengelola investasi pemerintah, bahkan dalam laporan keuangannya pada tahun 2023, INA telah menyumbangkan laba bersih sebesar 4,3 triliun rupiah, angka ini meningkat sebesar 64% dibandingkan tahun sebelumnya. Kewenangan BPI Danantara yang lebih luas dalam pengelolaan investasi dan asset BUMN diharapkan akan mampu menarik jauh lebih besar investasi domestik maupun internasional seta mengakselerasi dan investasi tersebut agar mampu membangun kemitraan strategis secara global.

Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan oleh pemerintah sebesar 8 persen memang membutuhkan upaya yang sangat serius dan strategis, seperti diketahui menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada tahun 2024 yang diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan terjadi pertumbuhan sebesar 5,03 persen. Kondisi ini menunjukkan terjadi perlambatan jika  dibandingkan dengan capaian pada tahun 2023 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,05 persen.

Investasi merupakan salah satu cara untuk dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, Semakin besar investasi yang dilakukan, semakin cepat pula pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai. Laporan Kementerian Investasi dan hilirisasi atau BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) menyebutkan bahwa pada tahun 2024 (januari-desember) mencapai 1.714,2 triliun rupiah angka ini secara year on year tumbuh sebesar 20,8 persen. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi maka setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi membutuhkan sekitar 340 trilyun investasi, artinya untuk pertumbuhan ekonomi 8 persen membutuhkan investasi sekitar 2.720 trilyun, nilai investasi yang sangat besar.

Lima besar lapangan usaha pilihan investor pada tahun 2024 adalah Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya sebesar 13,9 persen. Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi sebesar 11,1 persen, Pertambangan sebesar 10,8 persen, Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran sebesar 7,2 persen dan jasa lainnya sebesar 7 persen. Selaras dengan kontribusi investasi masing-masing lapangan usaha tersebut, rilis data BPS menunjukkan bahwa kontribusi lapangan usaha Industri Pengolahan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto sebesar 18,98 persen, diikuti oleh Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,07 persen, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 12,61 persen, Konstruksi sebesar 10,09 persen, serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 9,15 persen. Kontribusi yang besar tersebut ternyata diikuti dengan laju pertumbuhan yang juga cukup besar yaitu industri pengolahan sebesar 4,43 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 4,86 persen, konstruksi sebesar 7,02 persen, pertambangan dan penggalian sebesar 4,90 persen hanya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang kecil sebesar 0,67 persen.

Optimisme akselerasi pertumbuhan ekonomi dilakukan melalui peningkatan investasi sangat relevan mengingat BPI Danantara Indonesia merupakan katalisator pertumbuhan ekonomi nasional melalui investasi strategis di sektor prioritas yang mendorong daya saing global. Salah satu target penting dalam hal ini adalah investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI). Investasi asing dianggap sebagai katalisator penting untuk mempercepat pembangunan ekonomi, namun tantangan terhadap peningkatan FDI ini tentu tidak mudah, selain regulasi investasi yang harus tegas, keselarasan dan kesenjangan kepentingan serta infrastruktur yang harus diperbaiki, dan tak kalah penting adalah peningkatan sumberdaya manusia. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang besar, dan pasar domestik yang terus bertumbuh, Indonesia menjadi tujuan menarik bagi investor asing. (Andi Ismoro, Statistisi BPS DIY)

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *