Categories Nasional

Terorisme Mengancam Masyarakat dan Negara

Suarayogyakarta.com – Apa sih itu terorisme? Terorisme adalah adalah bentuk serangan yang telah direncanakan oleh seseorang atau kelompok yang bertujuan untuk membangkitkan perasaan teror (menakuti) terhadap sekelompok masyarakat luas. Terorisme ini sangat berbeda dengan perang dimana aksi terorisme ini dilakukan secara acak yang dilakukan secara tiba-tiba dan target korban jiwanya pun dipilih secara acak entah itu warga sipil atau dari golongan pemerintahan.

Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Berkembangnya terorisme sendiri tidak lain akibat penyebaran faham-faham radikal yang kerap di sosialisasikan melalui kajian, tulisan, internet maupun tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kemanusiaan untuk menggalang masyarakat agar ikut bergabung dan sepemahaman dengan kelompok tersebut. Kejahatan terorisme saat ini dan sebelum tahun 2000, menunjukkan intensitas yang lebih dibandingkan masa sebelumnya. Tidak hanya di Indonesia (Bali dan Jakarta) tetapi juga tempat-tempat lain di dunia.

Penanganan terhadap masalah terorisme membutuhkan kualitas dan kapasitas intelijen yang tinggi untuk dapat mengungkap pelaku dan motif dibalik terorisme, serta akar permasalahan yang mendasarinya. Sementara itu aksi-aksi terorisme semakin canggih dan menggunakan teknologi yang tinggi. Tanpa adanya peningkatan kualitas dan kapasitas intelijen, aksi terorisme semakin sulit diungkapkan. Sebagai contoh, dampak tragedi bom Bali pada bulan Oktober 2002 telah menurunkan kegiatan ekonomi lokal sepanjang tahun 2003dengan berkurangnya pendapatan penduduk Bali sekitar 43 persen, antara lain karena pemutusan hubungan kerja terhadap 29 persen tenaga kerja di Bali.

Perkembangan pola-pola terorisme di Indonesia semakin berkembang, yang awalnya bersifat tradisional ditandai dengan adanya kelompok dengan personel dan komando yang jelas berubah menjadi pola modern. Apa lagi dalam kondisinya yang kian terjepit, para teroris kemudian mulai mengeksplorasi pola baru yang ditandai dengan aksi-aksi terorisme yang dilakukan secara mandiri. Kelompok besar teroris mulai terpecah kedalam kelompok-kelompok kecil yang melakukan aksi teroris secara terpisah. Target tidak lagi harus ditentukan oleh pemimpin besar, mereka juga tidak lagi melakukan pengakuan publik atas aksi-aksi terorisme yang dilakukan. Bahkan belum lama ini kasus terorisme yang terjadi di mabes polri dilakukan tunggal (sendiri) dimana sang pelaku telah mempelajari cara menembak bahkan ia memiliki kartu club menembak dalam artian ia belajar dengan sendiri dan beraksi sendiri juga.

Jika sekarang saja sudah seberani ini tidak dipungkiri akan ada yang lebih tak terduga kedepannya. Pemerintah harus lebih pintar dari para peneror yang meresahkan, harus lebih waspada terhadap setiap kejadian aksi-aksi yang mencurigakan, harus lebih menggali lagi agar semua cabang terorisme tertangkap. Terlebih lagi keluarga, dimana ini menjadi dasar kewaspadaan. Orang tua harus lebih menjaga dan mengawasi anak-anaknya, lebih perhatian, lebih banyak mengedukasi dari hal terkecilpun tidak apa-apa, lebih memperhatikan kelompok pergaulan/bermain anaknya jangan sampai kelompok pergaulannya menjadi sumber sang anak untuk melakukan teror.

Kaum milenial juga harus lebih berhati-hati dalam menggunakan sosial media apalagi di masa pandemi ini, banyak sekali berita hoax dan perkembangan terorisme lebih cepat menyebar dan mudah mempengaruhi setiap orang. Jaringan terorisme sekarang memanfaatkan kecanggihan teknologi, untuk terus menyebarkan ujaran kebencian dan provokasi terhadap seseorang, politik, kelompok tertentu bahkan agama. Masyarakat yang tingkat literasinya rendah, tentu akan mudah terpengaruh.

Jika dibandingkan dengan pelaku penyebar kebencian yang pandai menyusun kata-kata dibandingkan dengan masyarakat yang tingkat literasinya rendah,tentu akan mudah terpengaruh. Apalagi informasi yang kita terima tidak ada sumber terpercaya atau bukti konkrit bahwa berita yang kita baca itu benar. Tidak jarang jika ada suatu permasalahan di masyarakat, maka akan menyudutkan pemerintah. 

Sedikit-sedikit salah pemerintah, padahal jika kita lebih berhati-hati dan pintar dalam membaca dan memahami sebuah berita pasti kita akan tahu bahwa itu hanyalah ujaran kebencian. Dan masyarakat yang tidak memahami informasi secara utuh, maka akan terbangun kebencian yang diarahkan untuk pemerintah tersebut. Jika masyarakat sudah membenci maka akan menjadi peluang yang besar bagi para pelaku terorisme, mereka akan lebih mudah mempengaruhi orang yang dan akan memberikan ajaran-ajaran yang tidak benar.

Seperti yang kita ketahui jika setiap ada aksi terorisme pastinya polis menemukan surat wasiat yang sebelumnya ditulis oleh pelaku, surat itu ditujukan untuk keluarga dan kerabat sekitarnya. Yang kita ketahui juga pelaku mengajak keluarganya untuk berjihad, bertaubat, menonton dakwah, dekati diri ke tokoh agama atau ulama, isi suratnya juga menunjukkan bahwa para pelaku ini sudah tidak percaya lagi terhadap pemerintah, demokrasi, bank, pemimpin dengan agama yang berbeda dan hal-hal yang bertentangan dengan kepercayaan mereka. 

Kebanyakan pelaku bom adalah orang yang sudah memiliki dasar islam, seperti alumni pesantren yang kurang faham begitu dalam apa itu jihad. otak teroris akan membelokkan pemikiran jihad kepada pelaku bom, artinya jika orang yang sudah punya dasar agama, jihad, dan lain sebagainya. Otak teroris tinggal memoles dan membelokkan pemikiran mereka agar melakukan aksi yang di inginkan oleh otak teroris tersebut.

Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Karena hal itu, Indonesia menjadi negara yang cukup subur untuk bertumbuhnya bibit  radikalisme untuk memecah persatuan bangsa dengan aksi-aksi terorisme yang membuat timbulnya perpecahan antar golongan. Lalu apa sih radikalisme itu sendiri? Secara singkat radikalisme adalah suatu sikap yang ingin perubahan secara total dan bersifat revolusi dengan merobohkan niali-nilai yang ada secara drastis lewat aksi ekstrim dan kekerasan. Oleh karena itu, biasanya radikalisme dipakai untuk melakukan perubahan mendasar melalui cara-cara kekerasan oleh suatu individu maupun kelompok. 

Faktor-faktor penyebab timbulnya paham radikalisme di Indonesia yang berujung aksi terorisme cukup beragam. Yang pertama adalah sikap masyarakat intoleran, seperti yang sudah dijelaskan bahwa Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda. Orang yang intoleran akan cenderung mudah untuk direkrut ke dalam kelompok radikalisme karena akan sangat mudah dipengaruhi dan cenderung memiliki paham yang sama, karena radikalisme selalu menggunakan kekerasan dan menganggap orang yang berbeda paham dengannya adalah salah. Dan mereka yang kurang memiliki nalar yang kritis akan cenderung salah menafsirkan suatu paham maupun ajaran tertentu.

Betapa perlunya kita semua memahami apa itu teroris secara mendalam, agar tidak terpeleset ke jalan yang salah, bagi kalian yang muslim, kalian wajib tahu apa itu jihad yang sebenarnya.

Jihad jaman dulu adalah perang melawan musuh, namun jihad yang sekarang adalah dakwah secara damai, menyebarkan islam tidak dengan paksaan, tanpa kekerasan dan tidak ada bom bunuh diri dalam ajaran islam. Dan disini peran keluarga khususnya orang tua dalam mengayomi serta mendidik anaknya sangat berpengaruh pada sikap dan tingkah laku anak. Anak yang kurang perhatian dan kasih sayang orang tuanya juga akan berdampak buruk pada psikologi anak. Orang tua harus lebih memperhatikan anaknya, apa yang mereka butuhkan apa yang mereka inginkan apa yang mereka lakukan, orang tua harus tahu akan hal itu. Dengan melakukan upaya tersebut, kita berharap agar anak lebih dapat terbuka kepada orang tuanya. Tidak semua harus kita penuhi permintaan mereka, kita harus menyeleksi terlebih dahulu.

Sebagai orang tua, hendaknya harus lebih hangat kepada anak dengan cara lebih dekat dan lebih perhatian kepada anak agar anak tidak merasa sendiri. Kita sebagai kaum milenial harus lebih waspada dan memilah berita dengan baik dan benar, jangan sampai apa yang kita baca dan kita sebarkan itu dapat menjadi pola-pola terorisme yang baru. Memilih teman bergaul, pintar dalam menjalankan kepercayaan, dan tidak mudah percaya dengan hal-hal yang baru itu juga penting untuk diri kita sendiri. Tuhan tidak pernah sekalipun menyuruh hambanya untuk melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, jangan sampai apa yang kita perbuat membuat orang lain tertekan.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *