Sri Mulyani Pede Ekonomi RI Mulai Bangkit

Sri Mulyani Pede Ekonomi RI Mulai Bangkit

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan perekonomian Indonesia sudah mulai bangkit. Hal tersebut terlihat dari sejumlah tanda-tanda aktivitas bisnis dan ekonomi.

Sri Mulyani merinci, misalnya saja dari meningkatnya kinerja ekspor, dimana beberapa hari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja ekspor pada Maret 2021 tumbuh 30,47% secara tahunan.

“Kinerja ekspor pada Maret 2021 sangat impresif. Ini merupakan pertumbuhan tertinggi dibandingkan dua tahun terakhir dan terutama tahun lalu pada saat pandemi tahun pertama, di mana pertumbuhan ekonomi dunia merosot,” jelas Sri Mulyani 

“Kenaikan ekspor ini menunjukkan pulih dan bangkitnya kembali perekonomian Indonesia dan pelaku ekonomi Indonesia, serta pulihnya ekonomi dunia,” kata Sri Mulyani melanjutkan.

Meningkatnya kinerja ekspor tersebut, juga didominasi oleh produk-produk non migas dengan nilai mencapai US$ 17,45 miliar.

Kinerja ekspor yang didominasi oleh ekspor nonmigas tersebut kata Sri Mulyani, menunjukkan kondisi perekonomian mampu meningkatkan produk-produk nonmigas yang menembus pasar dunia.

Selain itu kenaikan kinerja ekspor, juga kata Sri Mulyani disertai dengan meningkatnya aktivitas impor. Dimana pada Maret 2021 impor tumbuh 25,37% secara tahunan.

Sri Mulyani tak memungkiri bahwa eksosistem ekspor nasional yang mulai terbentuk meruapakan berkat dukungan dari semua pihak termasuk Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) yang memiliki peranan penting untuk terus meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.

“Industri dalam perekonomian luar biasa penting dalam terus tingkatkan daya saing dan tinggkatkan ekspor kita tembus pasar global. Bahkan pengusaha kecil dan produsen dari mulai bahan baku hingga hilir akan dapat membentuk sebuah mata rantai penunjang ekspor yang tangguh,” tuturnya.

Sebagai gambaran, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2021 surplus US$ 1,57 miliar. Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, kondisi surplus ini dipicu oleh ekspor Maret 2021 yang mencapai US$18,35 miliar. Sedangkan nilai impor pada bulan itu mencapai US$16,79 miliar.

“Surplus ini jauh lebih bagus dibanding surplus pada Maret tahun lalu maupun 2019 yang hanya US$ 0,7 miliar,” tutur Suhariyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *