Pola Hidup Baru Turunkan Penularan Covid-19

Pola Hidup Baru Turunkan Penularan Covid-19

SELAMA pandemi virus korona (covid-19), ada beberapa hal yang bisa dijadikan pola hidup dan kebiasaan baru untuk menurunkan penularan covid-19 sehingga masyarakat bisa produktif. Kebiasaan baru dengan cara menggunakan masker, menjaga jarak aman dari orang lain, serta rajin mencuci tangan dengan sabun harus menjadi budaya yang mulai ditanamkan sejak sekarang.

Inilah yang kita rumuskan bersama tentang bagaimana kenormalan baru (new normal). Artinya, kita harus hidup normal yang produktif, tentunya yang sekolah tetap bisa sekolah, kemudian yang bekerja tetap bisa bekerja, tetapi mempersyaratkan sesuatu yang mutlak bahwa kita aman dari covid-19,” ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto, dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, dalam situasi pandemi global yang terjadi saat ini, tentunya tidak bisa lagi berpikir secara sektoral, bertindak secara sendiri-sendiri, dan berpikir untuk kepentingan sendiri, tetapi kepentingan bersama dikerjakan secara serempak dan terus-menerus sehingga menjadi sesuatu yang penting untuk dilaksanakan.

Lebih lanjut, Yurianto menyampaikan data terbaru pasien sembuh dari covid-19 bertambah lagi 252 orang sehingga total pasien sembuh menjadi 6.492. Kasus meninggal menjadi 1.520 dengan penambahan 24 orang, sedangkan yang terkonfirmasi positif covid-19 sampai kemarin siang didapatkan 678 orang sehingga total menjadi 25.216 orang

Akumulasi data kasus itu diambil dari hasil uji pemeriksaan spesimen sebanyak 300.545 yang dilakukan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) di 91 laboratorium, test cepat melokuler (TCM) di 53 laboratorium dan laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 173 lab. Secara keseluruhan, 205.165 orang telah diperiksa dan hasilnya 25.216 positif (kumulatif) dan 179.949 negatif (kumulatif),” tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, ada delapan wilayah yang tidak melaporkan penambahan kasus positif, seperti Aceh, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.

Ada juga provinsi yang hanya melaporkan adanya penambahan sebanyak satu hingga tiga, seperti Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Bengkulu, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara.

Rujukan monitoring covid-19

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Subandi Sardjoko, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan dashboard yang berfungsi untuk monitoring dan mengevaluasi pergerakan covid-19.

Nantinya, data yang ada pada dashboard itu menggunakan data yang dikoordinasikan tim Bersama Lawan Covid-19 (BLC) dari Gugus Tugas Covid-19,” ujarnya melalui virtual conference.

Menurutnya, Menteri PPN/Bappenas sudah mengumpulkan seluruh kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), baik tingkat provinsi maupun kota. Para pemimpin ini diminta untuk menyiapkan data harian yang disampaikan kepada Tim BLC sebagai syarat agar analisis yang dilakukan kredibel.

Pihaknya pun kembali mengingatkan, dalam melawan pandemi covid-19 ini harus berdasarkan komando satu pintu. Artinya, kebijakan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Adanya dashboard yang diawasi Bappenas akan memantau seluruh wilayah di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Universitas Indonesia (UI) Agustin Kusumayati mengatakan akademisi dan kesehatan akan terus berupaya untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan riset untuk peningkatan fasilitas kesehatan.

Sumber: https://mediaindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *