MUI Jabar Ingatkan Protokol Kesehatan di Masjid Saat New Normal

MUI Jabar Ingatkan Protokol Kesehatan di Masjid Saat New Normal

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat menyambut baik diperbolehkannya salat fardhu dan jumat di masjid setelah hampir dua bulan ditiadakan.

Ketua MUI Jawa Barat KH. Rahmat Syafei, mengungkapkan secara substansi pemerintah mulai melakukan pelonggaran dengan dibukanya masjid dan rumah peribadatan lainnya di daerah zona biru dan hijau atau daerah terkendali berdasarkan versi MUI.

“Berkaitan dengan new normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sangat patut disyukuri. Secara substansi pemerintah mulai melonggarkan, boleh melakukan ibadah, masjid dibuka pada tanggal 1 Juni karena berdasarkan standarnya sudah memungkinkan,” ujar Rahmat

Namun pihaknya mengingatkan agar umat muslim senantiasa menerapkan standar protokol kesehatan pencegahan penularan Corona Virus Disease atau COVID-19 saat melakukan salat berjamaah.

“Salat berjamaah sudah boleh dilaksanakan tapi dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti membawa sajadah bawa sendiri, pakai masker, dan jaga jarak. Kemarin ada yang melaksanakan jumatan ramai-ramai tanpa menerapkan protokol kesehatan, padahal di fatwa MUI daerah itu belum terkendali, tidak boleh juga memaksakan seperti itu,” terangnya.

Menurut Rahmat, langkah pemerintah untuk melakukan pelonggaran dan menerapkan new normal atau kenormalan baru sudah sesuai dengan fatwa MUI mengingat mudharatnya sudah berkurang.

“Perlu diapresiasi bahwa selama ini pemerintah termasuk di Jawa Barat terus merujuk fatwa MUI saat mempertimbangkan aturan ibadah. Sekarang sudah dibolehkan oleh MUI berdasarkan fatwa karena mudharatnya sudah berkurang. Bersyukur semua sudah agak membaik,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan kami melakukan pengecekan menjelang pembukaan dan penyelenggaraan ibadah berjamaah di tempat peribadatan di Kabupaten Bandung Barat.

Ia dan rombongan melakukan simulasi pelaksanaan ibadah berjamaah di Masjid Al Irsyad. Nantinya, shaf salat akan diberi jarak dengan penanda tanda silang agar tidak berdekatan.

Selain itu, jamaah diharuskan mencuci tangan, lalu mengantre saat mengambil wudhu dan diberikan jarak saat menunggu. Keran air di tempat wudhu akan diselang seling. Saat masuk ke dalam masjid ada pengecekan suhu tubuh.

“Nanti saat Salat Jumat, boleh salat di jalan kalau di bagian dalam masjid penuh dan direkomendasikan membawa sajadah sendiri. Pulang tunggu pengumuman, jadi diatur shaf yang pulangnya duluan, tidak langsung bubar. Jadi kesabaran diuji, memang tidak nyaman tapi ini cara paling baik menyeimbangkan syariat beribadah.
Berlaku untuk semua peribadatan agama lain,” kata pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Dalam tahap pertama diberlakukannya new normal, rumah ibadah menjadi yang pertama dibuka. Peribadatan mulai boleh dilakukan secara berjamaah namun tetap dibatasi untuk jamaah dan jemaat yang hadir sambil menerapkan protokol kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *