Menjadi Manusia Beradab di Tengah Pandemi Covid-19

Menjadi Manusia Beradab di Tengah Pandemi Covid-19

Tahun 2020 dunia dikejutkan oleh munculnya wabah Covid-19. Wabah yang dapat mengubah banyak hal, baik dari segi kesehatan, ekonomi, politik, hukum, dan moral. Cepatnya penyebaran virus ini kepada sesama manusia, memaksa pemerintah di seluruh dunia memberlakukan kebijakan lockdown, yaitu suatu upaya untuk pengendalian penyebaran infeksi virus. Baik di Indonesia dan di seluruh dunia, awalnya hanya memberlakukan physical distancing, namun kebijakan ini terasa tidak cukup untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sehingga lockdown diberlakukan dan masyarakat ditekankan untuk tetap berada di rumah dan melakukan segala kegiatannya di rumah saja.

Tidak dapat dimungkiri bahwa tahun 2020 dunia memasuki awal yang baru, zaman yang baru di mana dunia dilanda wabah penyakit Covid-19. Dengan adanya pandemi ini, dunia seakan memulai abad yang baru, yang jauh berbeda dengan kehidupan yang biasanya. Wabah penyakit ini memaksa masyarakat di seluruh dunia untuk hidup dengan penuh tantangan. Tidak boleh ada kontak fisik terhadap sesama manusia seperti berjabat tangan, sebab hal tersebut merupakan salah satu sarana penyebaran Covid-19.

Di Indonesia sendiri, saat ini penyebaran Covid-19 telah mencapai angka 24.538 kasus, melansir dari Merdeka.com per tanggal 28 Mei 2020. Dari media yang sama disebutkan bahwa pertama kali kasus positif di Indonesia terdeteksi pada Senin, 2 Maret 2020, dan pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sejak saat itu, penyebaran Covid-19 terus bertambah setiap hari. Alasan utama cepatnya penyebaran virus ini adalah ketidakdisiplinan dari masyarakat dalam mengikuti kebijakan pemerintah. Jakarta sebagai daerah pertama yang memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), menetapkan pemberlakuan PSBB sejak tanggal 6 April 2020. Namun dengan kebijakan ini, tetap tidak menghentikan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Kebijakan-kebijakan yang telah diberlakukan oleh pemerintah merupakan jalan terbaik dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Namun, pertambahan jumlah kasus terinfeksi Covid-19 menunjukkan bahwa masyarakat tidak secara disiplin mengindahkan kebijakan pemerintah. Hal tersebut juga terbukti bahwa setelah pemerintah menetapkan pemberlakuan PSBB, tetap saja ditemui begitu banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah.

Toko-toko perbelanjaan dipadati, jalan-jalan macet oleh kendaraan masyarakat. Walaupun tidak sebanyak seperti yang biasanya, namun tetap saja hal tersebut mejadi sarana penyebaran Covid-19.

Protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh Kementerian Kesehatan juga tidak diindahkan oleh masyarakat. Penggunaan masker, physical distancing, tidak berjabat tangan dengan sesama, dan selalu mencuci tangan setiap bersentuhan dengan apapun merupakan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun hal tersebut tidak 100 persen diikuti oleh masyarakat. Ketidakdisiplinan masyarakat, menandakan kurangnya kesadaran diri terhadap kepentingan bersama.

Dengan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri, banyak masyarakat yang mengabaikan kerja keras dari pemerintah dan tim medis yang terus bekerja dalam menangani Covid-19. Masih banyak masyarakat yang mengabaikan, bahkan menganggap remeh wabah penyakit Covid-19 yang saat ini melanda dunia.

Dengan menganggap bahwa kepentingan sendiri lebih penting dari apapun, banyak masyarakat bersikap “bodoh amat” terhadap keadaan yang terjadi saat ini. Inilah alasan utama mengapa Covid-19 tidak kunjung hilang dan penambahan kasus positif terinfeksi menujukkan angka yang kian bertambah dari waktu ke waktu.

Hal yang sebenarnya ditekankan saat ini adalah kesadaran diri. Kesadaran akan wabah penyakit yang saat ini melanda dunia, kesadaran bahwa ada kerja keras di balik layar dari sebagian orang, dan kesadaran bahwa wabah ini dapat merenggut kehidupan manusia.

Mendisiplinkan diri merupakan jalan satu-satunya untuk mencegah penyebaran wabah penyakit ini. Mengindahkan kebijakan pemerintah dengan mengikuti aturan-aturan yang telah diberlakukan, membuat kita menjadi manusia yang bermoral, manusia yang beretika, dan manusia yang beradab.

Menjadi manusia beradab, berarti kita menjadi manusia yang berahlak dan berbudi pekerti luhur. Salah satu contoh manusia beradab adalah tidak mementingkan kepentingan diri sendiri. Sebab manusia beradab adalah manusia yang memikirkan dan mendahulukan kepentingan banyak orang dan kepentingan bersama sebagai hal yang harus diutamakan.

Lewat tulisan ini, saya mengajak kepada kita semua, jadilah manusia yang beradab; menghormati dan menghargai kebijakan pemerintah dengan mengikuti segala aturan yang diberikan, serta mengapresiasi kerja keras tim medis dalam menangani kasus Covid-19 ini. Menjadi manusia beradab, dengan mengutamakan kepentingan banyak orang dan mengesampingkan kepentingan pribadi, serta meningkatkan kesadaran diri dan kedisiplinan, merupakan jalan terbaik untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kepedulian kita terhadap sesama, terhadap banyak orang dan terhadap dunia akan membantu memperbaki zaman yang baru ini, zaman di mana dunia dilanda wabah penyakit Covid-19. Menjadi manusia beradab merupakan jalan terbaik dan efektif untuk menyembuhkan dunia yang saat ini bersedih dan berduka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *