August 12, 2020

Lawan Radikalisme hingga ke Akarnya

Suarayogyakarta.com – Bibit radikalisme di Indonesia sejatinya sulit hilang di bumi Indonesia, dan sejumlah negara lain di belahan bumi ini. Setelah aksi teror meledak di Surabaya di penghujung tahun beberapa waktu lalu.

Aksi teror memang bisa dilakukan dengan cara apa saja, tidak identik dengan bom bunuh diri. Setelah ISIS berkuasa, pemimpinnya pernah perna mengeluarkan perintah kepada para pengikutnya, untuk melakukan teror dengan cara apa saja.

Tak lama setelah itu pernah ada teror dengan cara menabrakkan truk di kerumuman masa dan teror dengan cara penusukan. Dan terbukti, pelaku penusukan Mantan Menko Polhukam adalah orang yang terpapar provokasi ISIS. Dan Polisi mengatakan mereka adalah bagian dari jamaah anshorut daulah (JAD).

Munculnya kembali kelompok JAD dan melakukan teror dengan cara menusuk ini, merupakan bukti bahwa radikalisme masih tetap ada. Dan adanya pelaku pasangan suami istri ini, juga merupakan bukti bahwa penyebaran radikalisme tidak hanya didominasi para pria, tapi juga sudah menyasar kelompok perempuan, bahkan mungkin anak-anak.

Karena itulah, perjuangan melawan radikalisme harus dilakukan oleh semua pihak. Tidak boleh dilakukan secara parsial. Semua elemen masyarakat, dari level bawah hingga atas, harus bersatu untuk melawan propaganda radikalisme yang saat ini masih disebarluaskan melalui media sosial.

Tanpa disadari, banyak pihak sudah terpapar bibit radikal. Maraknya penyebaran ujaran kebencian di media sosial, merupakan bukti bahwa bibit radikal itu masih ada. Maraknya provokasi dan persekusi, merupakan bukti bahwa bibit intoleransi dan radikalisme itu masih ada.

Ketika intoleransi dan radikalisme terus dipupuk dengan provokasi, yang terjadi kemudian adalah aksi teror yang bisa mengancam keselamatan orang lain. Jika dorongan teror ini bertemu dengan keahlian atau kemampuan tertentu, yang terjadi adalah bom.

Namun jika tidak ada kemampuan, yang terjadi adalah aksi penusukan atau aksi nekad lain yang bisa mengancam nyawa orang lain. Mau dengan cara bom bunuh diri atau tidak, aksi teror tetap ada dan tetap sama-sama membahayakan.

Lebih baik menebar bibit kedamaian dari pada bibit kebencian. Lebih baik merangkul semua karagaman, dari pada memukul perbedaan. Ingat, Indonesia adalah negara dengan tingkat keragaman yang begitu tinggi. Indonesia adalah negara toleran, yang sangat menghargai keragaman suku, budaya, bahasa dan agama.

Jangan biarkan radikalisme dan intoleransi merusak keragaman yang ada tersebut. Karena bibit radikalisme terbukti mampu merusak toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang telah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *