Inovasi Tanam Padi Hibrida, Lampung Hasilkan Panen Lebih Tinggi

Inovasi Tanam Padi Hibrida, Lampung Hasilkan Panen Lebih Tinggi

PETANI berhasil panen demplot varietas padi hibrida hasil rakitan anak bangsa Hipa 18, Hipa 19 dan Hipa 21 seluas 3 hektare di Kelompok Tani Margo Rahayu II, Kampung Kota Gajah, Kecamatan Kota Gajah, Lampung Tengah.

Hasil ubinan Demplot tersebut sangat memuaskan petani setempat, hasilnya meningkat jauh dari padi varietas lokal/inbrida dari 7 ton/hektar menjadi 11- 13 ton per hektare.

Kasi Produksi, Nur Hasan mewakili Kepala Dinas Pertanian TPH Lampung Tengah saat menemani Kabid Tanaman Pangan Provinsi Lampung memanen padi hibrida dengan alat panen combine harvester menuturkan, Kabupaten Lampung Tengah mempunyai potensi untuk mengembangkan padi hibrida.

“Ini sangat prospektif ke depan karena untuk mengatasi adanya alih fungsi lahan sawah yang digunakan untuk sektor pembangunan lain sedangkan peluang ekstensifikasi lahan sangat sulit,” ujar Nur Hasan.

Maka melalui penanaman varietas padi hibrida Hipa 18, Hipa 19 dan Hipa 21 adalah upaya yang paling tepat untuk meningkatkan produktivitas padi secara nasional.

Di lain pihak, Area Manager PT.Twinn Viciawan Harits Vachreza mengungkapkan bahwa varietas Hipa sangat cocok diaplikasikan untuk petani dalam upaya peningkatkan produktifitas padi secara nasional.

PT. Twinn bekerja sama dengan Balitbangtan Kementan siap mendukung program pemerintah melakukan pendampingan dan pengembangan padi hibrida varietas Hipa kepada petani.

Terlebih, di masa pandemi Covid-19, para petani tetap harus menyediakan pangan. Dengan meningkatkan produktivitas melalui penanaman padi hibrida ini, maka produksi beras akan tercukupi dan terciptanya kemandirian pangan,” paparnya.

Dari testimoni Ketua Kelompok tani Margo Rahayu II, Nano mengungkapkan bahwa dirinya sudah tidak asing lagi untuk bertanam padi hibrida, sebelumnya pernah tanam varietas hibrida.

Kelebihan varietas Hipa 18, Hipa 19 dan Hipa 21 jika dibanding dengan varietas lain memiliki umur tanam yang lebih pendek atau genjah (90 hst), perawatan mudah, jumlah rumpun anakan lebih banyak sekitar 40/rumpun, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, serta produksi tinggi dari hasil ubinan 11 ton sampai 13 ton per ha dan tahan kelembaban curah hujan tinggi.

“Bahkan Untuk kebutuhan benih per ha cukup 15 kilogram. Selain itu varietas Hipa ini hemat pupuk dibanding varietas lain. Bahkan sekitarnya terkena hama wereng, Alhamdulillah varietas ini tahan Wereng,” imbuh Nano.

Secara terpisah, Dirjen Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi, menyampaikan bahwa sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, modernisasi pertanian merupakan salah satu arah kebijakan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 2024.

Kementan terus mendukung pengembangan adopsi teknologi padi hibrida dalam rangka peningkatan produktivitas padi secara nasional. Terlebih produksi rakitan anak bangsa.

Sementara itu, Direktur Perbenihan, Kementan, Takdir Mulyadi, menuturkan bahwa pemerintah terus membuat terobosan inovasi. Harapannya dengan adanya varietas padi hibrida baru, mampu meningkatkan produktifitas, tahan hama penyakit (OPT) dan lainnya.

Tiga varietas padi hibrida Hipa 18; Hipa 19 dan Hipa 21 merupakan produk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan RI yang dikembangkan bersama PT. Tunas Widji Inti Nayyotama (Twinn) dengan melisensi Hipa 19 dan Hipa 21 serta PT. Petrokimia Gresik melisensi Hipa 18 untuk dikembangkan secara komersial.

Bertanam padi hibrida merupakan salah satu teknologi pemuliaan tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif peningkatan produktivitas padi secara nasional.

Melalui pemanfaatan keunggulan sifat heterosis yang terdapat pada turunan pertama (F1) padi hibrida, akan menghasilkan potensi hasil yang lebih tinggi hingga 20% dibanding padi inbrida atau lokal, imbuhnya.

Takdir berharap, dengan adanya demplot ini, sangat penting yang tujuannya adalah sebagai sarana desiminasi atau mensosialisasikan pengenalan varietas baru produksi rakitan anak bangsa yang belum pernah dikembangkan petani.

Sumber : https://mediaindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *