Suara Yogyakarta – Pemerintah menyiapkan tambahan anggaran untuk penanganan bencana di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah akan menambah anggaran sesuai kebutuhan yang diajukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Purbaya mengatakan pemerintah tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan anggaran untuk penanganan bencana. Saat ini, pemerintah disebut telah menyiapkan dana hampir Rp1 triliun yang siap digunakan apabila diperlukan untuk penanganan bencana.
“Kita punya hampir Rp1 triliun yang ready,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (7/9).
Menurut Purbaya, tambahan anggaran dapat diberikan apabila BNPB mengajukan kebutuhan. Pemerintah akan melihat besaran kebutuhan tersebut sebelum menentukan tambahan anggaran yang diperlukan.
“Akan ada tambahan anggaran, tergantung permintaan dari BNPB. Kalau minta, kita lihat,” katanya.
Purbaya menegaskan, anggaran untuk penanganan bencana memiliki perlakuan berbeda dibandingkan anggaran belanja pemerintah lainnya. Dana tersebut diprioritaskan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
“Kalau untuk bencana, treatment-nya beda. Itu bukan untuk foya-foya, tapi untuk mengurangi penderitaan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menyebut hingga saat ini belum menerima permintaan tambahan anggaran dari BNPB. Namun, pemerintah tetap membuka ruang untuk menambah anggaran apabila kebutuhan penanganan bencana meningkat.
Purbaya juga mengatakan tidak ada batas maksimal anggaran yang secara khusus ditetapkan pemerintah setiap tahunnya untuk penanganan bencana. Besaran anggaran akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kita lihat sesuai kebutuhan, asal tidak ngarang-ngarang kebutuhannya,” tegasnya.
Kesiapan anggaran tersebut menjadi perhatian seiring meningkatnya aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Beberapa gunung api dilaporkan mengalami erupsi, di antaranya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu perhatian utama setelah mengalami erupsi berulang sejak 4 September 2026. Aktivitas tersebut memicu sebaran abu vulkanik yang mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah, termasuk penutupan sementara beberapa bandara.
