Kontestasi politik tanah air saat ini bukan hanya diramaikan oleh isu persaingan capres dan cawapres atau koalisi partai saja. Ada pemain politik sebagai kekuatan mematikan dalam kebijakan atau veto sebuah isu politik. Bisa disebutkan bagian penting stage holder Pencapresan ada yang disebutkan King Maker. Seorang yang didaulat sebagai orang penting dibalik layar politik yang sangat menentukan kebijakan dan keputusan politik penting.
King maker tidak harus punya kedudukan atau jabatan sebagai ketua partai . Jokowi adalah salah satu yang digadang -gadang sebagai bagian dari king maker kelas berat di tanah air saat ini. Jabatan presiden selama dua periode dianggap telah cukup sukses membangun infrastruktur politik dan jejaring di luar partai pengusungnya yakni PDIP.
Saat ini Jokowi masih gelar king maker. Posisi king maker bukan dari pemberian atau anugrah petugas partai PDIP tetapi didapat dari kristalisasi politik sebagai presiden dua periode. Jokowi berhasil membuat dirinya menjadi king maker karena keahlihan dan kecerdikannya mengelola kekuasaan dan pengaruh nya saat menjabat sebagai Presiden. Bisa saja lompatan pikiran dan obsesi politik Jokowi sangat jauh, barangkali Jokowi kelak tidak hanya berfikir sebagai king maker namun bisa berubah menjadi ketua umum partai atau dewan pembina partai politik.
Peluang Jokowi terjun di politik sangat tinggi, bis membuat partai sendiri atau membeli serta mengakusisi partai lama. Semuanya opsi politik sebagi ketua partai terbuka lebar. Langkah Jokowi sebagai ketua partai akan berpengaruh besar juga kada karier politik anak -anak dan menantunya. Gibran Rakabuming Raka saat ini sedang menjabat sebagai Walikota Solo, Bobby Nasution menantunya juga sedang menjabat walikota Medan. Kaesang sedang bersiap melangkah di Pilkada di Depok Jabar.
Menjabat akhir jabatannya, Jokowi sedang gencar-gencarnya melakukan intervensi atau cawe-cawe dalam politik nasional. Dianggap wajar jika perilaku politik saat ini reaktif terhadap sistem politik yang sudah terbangun di Indonesia. Kekuatan politik Indonesia dikuasai oleh kartel politik dari gerbong keluarga atau dinasti.
Kekuatan politik tersebut menjelma dalam kekuatan partai politik dan patron politik dalam birokrasi pemerintahan. Dan karenanya Jokowi sangat resah diakhir kekuasaannya sebagai presiden berakhir. Pilihannya tepat jika opsi ikut cawe -cawe manjadi kebutuhan politik yang sangat urgen. Jika Jokowi pingin membangun kekuatan politik, saat tepat menjadikan dirinya menjadi king maker, atau setidaknya memegang veto politik nasional.
Dipastikan juga jokowi tidak menginginkan karier politik anak dan menantu dibabat habis oleh rejim kekuasaan yang akan menggantikannya. Menjadi mimpi buruk jika situasi terburuk dan tragis bagi Jokowi dan keluarganya hingga harus terpental dari pengaruh dan struktur politik nasional. Jokowi akan banyak dicari dan di buru setelah lengser dari kekuasaan.
Kecelakaan terburuk terjadi jika Jokowi hilang atau kalah pengaruhnya di politik nasional 5-10 tahun ke depan. Rejim yang menang bukan kawan atau kelompok dirinya, melainkan pihak oposisi . Bagi para pendendam politik yang manjadi korban politik saat menjabat sebagai presiden akan terus berburu kekeliruan dan juga cacat sang presiden selama menjabat.
Dapat disimpulkan jika cawe-cawe Jokowi dalam konstelasi politik nasional sebagai konsekuensi logis sebagai bagian pelaku politis nasional baik wewakili individu dan golongan. Jokowi sekiranya sudah memutuskan ketertarikan dan juga menjadi keharusan untuk terjun langsung ke daerah dan medan perang politik praktis. Seharusnya tidak ada kejutan atau kekuatiran terutama pihak elite jika Jokowi cawe-cawe ke proses pencalonan presiden dan wakilnya. Jokowi mempunyai hak politik secara personal dan juga hak konstitusional sesuai UUD 45 untuk berkiprah lebih dalam di dunia politik.
