Suara Yogyakarta – Pelaku pasar modal mengapresiasi 3 tahun masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di tengah guncangan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Indonesia menjadi salah satu negara yang tampil “cantik” bagi investor asing.
“Saya mengapresiasi ekonomi Indonesia dalam 3 tahun Jokowi, hal ini saya dasarkan dari keberhasilan Indonesia untuk keluar resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19, stabilitas ekonomi masih terlihat di tengah perang Rusia-Ukraina, kenaikan suku bunga global dan hyper-inflasi,” kata Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan kepada Investor Daily, Rabu (19/10/2022).
Terkait industri pasar modal, Alfred berpendapat kebijakan pemerintahan Jokowi bisa menarik minat investor lokal dan asing untuk menginvestasikan dananya di pasar modal. Jumlah perusahaan yang masuk ke pasar modal juga makin ramai. “Kebijakan tentu sangat bersahabat jika melihat peningkatan jumlah investor dan emiten (animo) yang agresif, meningkatnya likuiditas pasar dan rencana pengembangan yang on the track,” ungkap dia.
Menurut Alfred, meningkatnya peran investor domestik di Bursa Efek Indonesia (BEI) berkontribusi positif terhadap stabilitas maupun ketahanan pasar saham Tanah Air. Pemerintahan Jokowi juga berhasil memberikan kepercayaan bagi pelaku ekonomi untuk menjadikan pasar modal Indonesia sebagai akses pendanaan kuat.
“Lihat saja keberhasilan IPO emiten besar seperti BUKA (PT Bukalapak.com Tbk), MTEL (PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel), dan GOTO (PT Goto Gojek Tokopedia Tbk). Hal ini menunjukkan penyerapan pasar kita yang semakin kuat,” pungkas Alfred.
Lebih lanjut, dalam 3 tahun terakhir terlihat pasar Indonesia mampu menjadi market menarik bagi investor asing. Hal ini tentu mengindikasikan keyakinan global terhadap pertumbuhan Indonesia ke depan.
Meski demikian, Alfred berharap, kebijakan tersebut bisa konsisten seperti menjaga iklim bisnis dan ekonomi sehingga mendongkrak daya beli masyarakat, dan efisiensi ekonomi.
Adapun bisa dilihat dari indikator makro ekonomi dalam 3 tahun terakhir, menurut Alfred, inflasi rendah atau terkendali, rupiah stabilitas, neraca perdagangan surplus, realisasi pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) semester II 2021, investasi baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA), serta belanja infrastruktur.
Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan minus dalam empat kuartal berturut-turut, masing-masing -5,32% year on year (yoy) pada kuartal kedua 2020, -3,49% (yoy) pada kuartal ketiga 2020, -2,19% pada kuartal keempat 2020, dan -0,7% (yoy) pada kuartal pertama 2021. Ekonomi Indonesia terkontraksi 2,07% (yoy) sepanjang tahun 2020, tetapi berhasil pulih pada tahun berikutnya dengan pertumbuhan 3,69%.
