Categories Uncategorized

HSBC: Ekonomi Indonesia Tetap Resilien dan Tumbuh 5,4% di Tengah Tekanan Global

Perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan di tengah sejumlah tekanan global, mulai dari kenaikan harga energi, tekanan harga pangan akibat El Nino, hingga kenaikan suku bunga global. HSBC memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada di level 5,4%.

Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann, mengatakan bahwa Indonesia relatif mampu menyerap berbagai tekanan tersebut karena ditopang oleh sejumlah faktor. Faktor-faktor itu meliputi kebijakan pemerintah dalam menjaga harga energi dan kondisi pangan, serta pengalaman dalam menghadapi tingkat suku bunga yang tinggi.

“Sejauh ini, perekonomian Indonesia sangat resilien, mengingat berbagai guncangan tersebut,” ujarnya dalam HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta.

Menurutnya, ekonomi Indonesia tumbuh 5,4% pada semester I 2026, dan HSBC memperkirakan pertumbuhan sepanjang tahun ini berada di level yang sama. Untuk 2027, HSBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit melambat menjadi 5,2%.

Dari sisi energi, Frederic menilai pemerintah Indonesia relatif mampu mengelola dampak kenaikan harga melalui subsidi dan dukungan harga. Kebijakan tersebut membuat kenaikan harga energi global tidak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen domestik.

“Sejauh ini, pemerintah Indonesia mampu membiayai pengendalian harga tersebut. Saya pikir ini menjadi jangkar penting bagi stabilitas ekonomi,” katanya.

Sementara itu, tekanan harga pangan dinilai masih relatif rendah. Menurut Frederic, kondisi tersebut berbeda dengan periode El Nino sebelumnya yang biasanya diikuti oleh kenaikan harga pangan di Indonesia.

HSBC melihat perbaikan sistem distribusi pangan turut membantu menjaga tekanan harga. Selain itu, Indonesia masih berstatus sebagai net food exporter secara keseluruhan sehingga relatif tidak terlalu bergantung pada impor pangan.

Dari sisi suku bunga, Frederic menilai Indonesia memiliki pengalaman yang matang dalam menghadapi tingkat suku bunga yang tinggi. Perusahaan dinilai telah terbiasa mengelola risiko suku bunga, sementara pemerintah selama beberapa tahun terakhir relatif konservatif dalam menjaga utang dan defisit anggaran.

“Bahkan jika suku bunga global meningkat, hal itu seharusnya tidak menjadi hambatan besar bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya.

HSBC juga memperkirakan Bank Indonesia hanya perlu menaikkan suku bunga satu kali lagi. Bahkan, apabila Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga, Frederic menilai Indonesia tidak membutuhkan pengetatan moneter tambahan.

Dari sisi nilai tukar, HSBC melihat rupiah relatif stabil ke depan. Sementara itu, defisit anggaran Indonesia diperkirakan tetap berada di bawah batas 3% pada tahun depan sehingga dapat memberikan keyakinan bagi investor asing.

Dalam beberapa pekan terakhir, Frederic mengatakan mulai terlihat kembali arus modal asing ke Indonesia. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya keyakinan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *