Bantul, 1 Oktober 2025 – Tiga tahun pasca Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan jiwa, suara-suara keadilan kembali menggema. Kelompok mahasiswa pecinta PSS Sleman yang tergabung dalam UMY for PSS menggelar diskusi bertajuk “Mengapa Suporter Selalu Disalahkan Sementara Akar Masalah Sesungguhnya Ada pada Regulasi yang Gagal dan Lemahnya Penegakan Hukum Pasca Tragedi Kanjuruhan” di Kantin BEM UMY, Rabu (1/10).
Acara yang berlangsung pukul 15.30–17.00 WIB itu menghadirkan narasumber dari kalangan mahasiswa UMY, yakni Brian Bagaskara (Hubungan Internasional) dan Taufik Ridho (Ilmu Pemerintahan), serta seorang saksi hidup selamat Tragedi Kanjuruhan, Reza, yang merupakan Aremania.
Suara dari Saksi Hidup
Dalam diskusi, Reza menuturkan pengalaman traumatisnya saat menyaksikan laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada 1 Oktober 2022. Ia menyaksikan langsung kepanikan massal ketika aparat menembakkan gas air mata dan akses keluar stadion hanya dibuka melalui satu pintu, yaitu Gate 14. Situasi itu memicu desak-desakan, banyak korban terjatuh, hingga meninggal karena terinjak-injak.
“Saat itu saya sempat tersungkur, tangan saya mati rasa, dan hanya bisa berusaha lari menyelamatkan diri. Sejak hari itu, saya trauma menonton langsung pertandingan, apalagi big match,” ungkapnya.
Kritik Regulasi dan Penegakan Hukum
Menurut Brian, tragedi Kanjuruhan seharusnya menjadi momentum perbaikan tata kelola sepak bola nasional. Namun, hingga kini, justru suporter yang terus dijadikan kambing hitam. “Larangan tandang, konflik horizontal, hingga citra buruk suporter adalah dampak nyata. Padahal akar persoalannya ada pada regulasi yang lemah dan tidak konsisten,” tegasnya.
Sementara itu, Taufik Ridho menyoroti aspek bisnis dalam sepak bola Indonesia. Menurutnya, media dan operator liga lebih mementingkan rating dan keuntungan, dengan menggelar pertandingan malam hari tanpa memikirkan aspek keamanan. “Suporter terus disudutkan, padahal akar masalahnya ada pada sistem ticketing, keamanan, dan tata kelola stadion yang amburadul,” ujarnya.
Dorongan Reformasi Sepak Bola
Diskusi ini juga menjadi ruang solidaritas bagi para korban Kanjuruhan. UMY for PSS menegaskan bahwa tragedi tersebut adalah potret kegagalan negara dalam melindungi warganya. “Kanjuruhan bukan sekadar peristiwa kelam, tetapi cerminan runtuhnya tata kelola sepak bola kita. Reformasi fundamental harus dilakukan: mulai dari infrastruktur stadion, sistem keamanan, hingga profesionalisme aparat,” bunyi pernyataan kolektif mereka.
Diskusi ditutup dengan ajakan agar publik tidak melupakan tragedi 1 Oktober 2022. Ingatan kolektif ini diharapkan menjadi energi untuk terus mendesak keadilan bagi korban, serta membangun sepak bola yang lebih aman, manusiawi, dan berkeadilan.
