Suara Yogyakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan suntikan penguat Covid19 akan diberikan pada 2022.
Menurut Menkes Budi Gunadi, suntikan penguat atau booster ini akan dibayarkan oleh negara untuk para penduduk lanjut usia (lansia) dan penerima bantuan iuran (PBI). Sedangkan suntikan penguat untuk penduduk lainnya harus membayar sendiri.
Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam podcast Deddy Corbuzier di YouTube pada 28 Desember 2021.
“Saat ini masih fokus menyelesaikan vaksinasi tahap 1 dan tahap 2. Setelah selesai tahap 2 kita mulai pemberian suntikan booster,” kata Menkes Budi.
Menkes Budi menjelaskan bahwa booster bisa melindungi dari penularan.
“Omicron ini bisa menghindari vaksin. Jadi tidak ada vaksin yang bisa menghalangi dia. Namun hasil penelitian menunjukkan imunitas meningkat setelah diberikan booster,” jelas Menkes.
“Oleh karena itu pemberian booster bagi orang yang sudah mendapatkan vaksin dua kali maka akan meningkatkan imunitas dari penularan,” ungkap Menkes.
Menurut hasil sementara penelitian, booster campur atau heterolog lebih bagus daripada homolog.
“Namun laporan penelitian lengkap baru akan didapatkan pada minggu kedua Januari setelah mencapai 1000 sampel,” kata Menkes.
Menkes menjelaskan bahwa booster akan dilaksanakan pada tahun depan.
“Insya Allah tahun depan. Karena vaksinatornya saat ini masih fokus ke vaksin 1 dan 2. Sekarang fokus vaksinasi untuk anak-anak sejumlah 26 juta orang lagi,” kata Menkes.
“Ini yang lebih penting karena mereka belum mendapatkan perlindungan apapun,” jelas Menkes.
“Vaksin kita cukup untuk booster untuk lansia dan PBI yang ditanggung negara. Sedangkan masyarakat lainnya harus membayar,” kata Menkes.
Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi menjelaskan bahwa omicron sudah masuk Indonesia.
“Sudah 46 orang yang kena [omicron di Indonesia],” kata Menkes Budi. “Paling banyak dari Turki.”
Menkes menjelaskan bahwa banyak sekali orang Indonesia yang suka bepergian keluar negeri padahal situasi sekarang seperti itu.
“Apalagi mereka suka bepergian ke Turki, yang merupakan bagian dari Eropa yang kasus omicronya termasuk yang tertinggi di dunia,” jelas Menkes.
“Turki itu paling tinggi setelah Inggris dan Uni Emirat Arab,” jelas Menkes tentang jumlah kasus omicron di Turki. “Ada satu anggota DPR RI yang bepergian ke Turki.”
Menkes menjelaskan untungnya kasus-kasus omicron tersebut terdeteksi saat dilakukan pemeriksaan di bandara.
“Ini artinya surveilans kita berjalan baik. Mereka yang terkan omicron terdeteksi saat di karantina di bandara,” jelas Menkes.
